Tahitian noni juice 89% terbuat dari buah noni atau mengkudu. Buah mengkudu tidak terlepas dengan keberadaan bangsa Polinesia yang menetap di kepulauan Samudra Pasifik ( Asia tenggara).

Pada tahun 100 SM, bangsa yang terkenal mengembara ini menyeberangi lautan meninggalkan tanah air mereka. Setelah lama mengembara, mereka sampai disekitar Polinesia yaitu kepulauan disekitar Pasifik Selatan. Para petualang tersebut langsung jatuh hati saat melihat indahmya pemandangan pantai dan pulaunya.

Tanaman noni kemudian ditanam di kepulauan Vukanik Tahiti dengan tanah yang subur dan udara yang bersih.Semua bagian tanaman noni digunakan mulai dari buah, daun, biji dan kulitnya. Tanaman noni menghampar ke penjuru pasifik.

Bangsa Polinesia memanfaatkan buah Noni untuk mengobati berbagai jenis penyakit, diantaranya adalah tumor, luka, penyakit kulit, gangguan pernapasan, demam, dan penyakit lanjut usia.

Pada tahun 1849, para peneliti Eropa menemukan zat pewarna alami yang berasal dari akar mengkudu dan kemudian di beri nama ” Morindone dan Morindin”. Dari hasil penelitian inilah, nama Morinda diturunkan.

Sekitar tahun 1800 orang-orang Eropa mengetahui khasiat mengkudu yang di awali dengan pendaratan kapten James Cook dan para awaknya di kepulauan Hawai (1778). kedatangan mereka membawa penyakit-penyakit baru seperti: Gonorrhea, Sipilis, TBC, Kolera, Influenza, Pneumonia yang dengan cepat mewabah ke seluruh wilayah Hawai dan mengakibatkan kematian ribuan penduduk.

Para peneliti Eropa yang datang kemudian melakukan pencarian dan penelitian sejarah dan kebudayaan bangsa Polinesia. Pada tahun 1860 pengobatan alamiah menggunakan mengkudu mulai tercatat dalam literatur-literatur Barat.

Sejak 1500 tahun lalu penduduk kepulauan yang kini disebut Hawai itu mengenal mengkudu dengan sebutan Noni. Mereka menduga tumbuhan bernama latin Morinda Citrifolia tersebut banyak memiliki manfaat karena buah ini telah di percaya bisa mengobati berbagai macam penyakit.